Bahasa sebagai sarana untuk penyembuhan jiwa




Teknokra.Id-Halo, sobat Teknokra. Pernah dengar kasus tragis yang baru-baru ini terjadi, yaitu aksi bunuh diri yang dilakukan oleh seorang siswi SMA di jalur kereta api Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, pada Senin sore, 10 Agustus 2026, kembali membuka mata kita pada suatu kenyataan pahit bahwa di era saat ini banyak sekali remaja yang menanggung tekanan emosional yang begitu berat sendirian. Dibalik senyuman atau keseharian mereka yang terlihat normal, ada banyak pergumulan batin yang kasat mata dan tidak terdengar oleh orang-orang terdekat. 

Ketika tekanan mental mencapai puncaknya, masalah terbesar bukanlah dikarenakan tidak adanya solusi, melainkan ketiadaan ruang bagi mereka untuk bicara dan berbagi keluh kesah tanpa adanya suatu penghakiman atas persoalan yang mereka alami. Dan disinilah suatu komunikasi bebas konflik begitu dibutuhkan untuk menyelamatkan jiwa kita. 

Tekanan emosional pada remaja maupun orang dewasa sering kali bermula dari hal-hal yang sepele namun dibiarkan terpendam begitu saja. Harapan akademik, masalah pertemanan, keluarga, hingga perundungan yang mungkin dialami dapat menjadi beban yang menumpuk. Dalam buku “Komunikasi Bebas Konflik” yang ditulis oleh Hiromi Yamasaki, dijelaskan bahwa sejatinya manusia memiliki keinginan untuk diakui eksistensinya. Dengan mendapatkan pengakuan, individu tersebut akan merasa puas dan merasa positif akan hal tersebut. Namun, sayangnya, hanya sedikit orang yang menganggap


penting fakta tersebut. 

Kebanyakan orang mengakui eksistensi suatu individu hanya berdasarkan sumber daya dan tindakan individu itu saja, dan hal inilah yang menjadi suatu faktor mengapa sulit sekali mengakui eksistensi suatu individu, padahal sejatinya menghargai suatu proses merupakan hal yang paling berharga, dibandingkan hanya berfokus pada hasilnya saja.  

Komunikasi merupakan salah satu cara termudah yang dapat digunakan untuk mengakui eksistensi individu. Dengan melakukan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitar kita, tanpa sadar kita dapat memberikan rasa aman bagi mereka, meskipun mungkin hanya sekadar sapaan sederhana, seperti menanyakan kondisi mereka, baik-baik saja atau tidak. Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar sepele, namun bagi mereka yang mengalami tekanan emosional yang begitu berat, pertanyaan itu dapat memberikan sedikit angin segar bagi mereka. Oleh karena itu, membangun kebiasaan berkomunikasi yang sehat bukanlah hal yang bisa diabaikan. 

Ketika kita mulai membiasakan diri untuk benar-benar mendengarkan, kita sedang menawarkan jalan terbaik bagi mereka yang sedang mengalami tekanan emosional. Sebab, seringkali bukan nasihat yang menyelamatkan seseorang dari tekanan emosional tersebut, melainkan kehadiran kita yang tulus, serta penyampaian kita yang benar-benar hadir sepenuhnya tanpa penghakiman bagi mereka yang didera oleh tekanan emosional.

Kita tidak harus menunggu menjadi seorang psikolog profesional untuk menyelamatkan kewarasan seseorang ketika mengalami tekanan emosional. Kepekaan kecil untuk sekadar bertanya tentang keadaan mereka atau sekadar duduk untuk mendengarkan keluh kesah mereka tanpa memotong pembicaraan sudah menjadi bentuk penyelamatan terbesar bagi mereka. 

Mari kita mulai membangun budaya saling mendengarkan di lingkungan terdekat kita. Karena di dunia yang penuh tuntutan ini, telingan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi bisa jadi adalah hal yang paling menyelamatkan nyawa. (Penulis: Legita Loerenza Siregar)