Menjaga Pikiran Tetap Waras Tanpa Kehilangan Kepekaan Sosial


Teknokra.id- Halo, Sobat Teknokra. Seperti yang kita ketahui saat ini, ada berbagai isu yang terjadi di dalam negara kita yang tercinta, dan kebanyakan semua isu tersebut ialah isu yang sensitif dan negatif untuk di dengar. 

 

Dan di tengah-tengah masyarakat kita sendiri, tentunya ada berbagai pendapat dan sikap ketika menghadapi berbagai pemberitaan tersebut, dan tentu saja semua itu dikarenakan pemberitaan tersebut sejatinya memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

Ada masyarakat yang memilih untuk mengutarakan pendapatnya secara terang-terangan, baik melalui media sosial ataupun langsung, dengan melakukan demonstrasi. Dan ada juga masyarakat yang lebih memilih untuk tidak mengutarakan pendapatnya atau yang saat ini sering kita sebut tone deaf.

 

Lalu apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat tersebut? Sebelum itu mari kita bahas apa itu tone deaf.  


Secara harfiah, istilah ini awalnya digunakan dalam dunia musik untuk menggambarkan seseorang yang tidak bisa membedakan nada atau fals ketika bernyanyi (tuli nada). Namun, dalam konteks sosial dan modern, tone deaf bergeser maknanya menjadi ketidakpekaan seseorang terhadap situasi, emosi, atau realitas sosial di sekitarnya sehingga ucapan atau tindakannya sering kali terasa menyinggung atau tidak pas dengan situasi yang sedang terjadi.

 

Lalu kira-kira apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menghadapi berbagai pemberitaan ataupun masalah tersebut?

 

Dalam dunia filsafat, ada pemikiran yang disebut Stoisisme/Stoicism dan juga pemikiran Class Conscius. Dalam beberapa sumber, dikatakan bahwasanya hal ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi bagaimana caranya manusia dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupannya.

 

Mari kita mulai dari Stoisisme/Stoicism, mungkin sebagian dari kalian yang pernah membaca Buku Filosofi Teras Karya Henry Manampiring, sedikit banyaknya telah mengetahui apa itu Stoisisme.

 

Jadi, Stoisisme ialah filosofi Yunani-Romawi Kuno yang dipelopori oleh Zeno dari Citium, serta dikembangkan oleh tokoh seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius yang mengajarkan bahwa ketenangan batin/ataraxia dicapai dengan membedakan apa yang berada di dalam kendali kita dan apa yang di luar kendali kita.

 

Sehingga inti dari pemikiran ini kita hanya dapat mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, namun jika tidak bisa? Maka tentu kita tidak akan berbuat apa-apa.  


Sama halnya dengan masyarakat yang memilih untuk melakukan tone deaf, kebanyakan dari mereka kemungkinan besar beranggapan bahwa mereka tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi dalam negara ini, merasa tidak mempunyai kekuatan atau pun pengaruh yang mampu untuk memperbaiki yang terjadi, sehingga mereka  hanya sekedar mengetahui dan mengikuti perkembangan yang ada tanpa memilih untuk melakukan suatu tindakan yang sekiranya dapat dilakukan seperti halnya mereka yang tetap berjuang.

 

Dan hal inilah yang akhirnya membuat kebanyakan orang menilai bahwa semakin lama pemikiran ini menimbulkan toxic positivity yang membungkam. Sehingga bagi yang menggunakan pemikiran ini berpendapat bahwa semua hal negatif yang terjadi, seperti penindasan ataupun ketidakadilan adalah hal yang tidak dapat kita cegah atau kita kendalikan, dan kita harus menerimanya dengan ikhlas dan mengganggap hal tersebut biasa saja.

 

Dan disisi lain ada pemikiran Class Conscius, konsep yang berakar dari sosiologi dan marxisme yang mengajak kita untuk menyadari posisi diri kita di dalam struktur sosial ekonomi. Kesadaran ini menuntut kita untuk melihat bahwa banyak penderitaan individu bukanlah sekadar nasib buruk atau kegagalan personal, melainkan produk dari sistem yang timpang.

 

Namun, tanpa kontrol emosi yang baik, tindakan yang didorong oleh kesadaran kelas terkadang bisa berubah menjadi keputusasaan yang bisa membuat kericuhan atau pun kemarahan yang menimbulkan kerusakan, bahkan saling serang antarsesama.


Karena hal itulah, dibanding mempertentangkan keduanya, sesungguhnya kita bisa memadukan Stoisisme dan Class Conscius secara bersamaan, namun bagaimana maksud dari perpaduan tersebut?

 

1.       Gunakan Stoisisme untuk diri sendiri dan Class Conscius untuk melihat keadaan orang lain. Gunakan prinsip Stoik untuk mengelola kecemasan, amarah dan keputusasaan agar kita tidak mengalami mental breakdown dalam menghadapi berita buruk.

2.       Gunakan pemikiran Class Conscius untuk mengarahkan empati, dibanding menyalahkan korban atas nasib buruk yang mereka alami, seperti menuding kaum miskin kurang berusaha, dan sebagainya. Pemikiran Class Conscius mengajarkan kita untuk memiliki empati struktural dan solidaritas sosial.

3.       Stoisisme mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang bisa kita ubah. Ketidakadilan memang sering terjadi, tetapi suara kita, merupakan bentuk solidaritas kita, serta penolakan terhadap sikap apatis adalah hal-hal yang sepenuhnya berada di dalam kendali kita.

 

Pada akhirnya, badai berita buruk tidak diciptakan untuk membuat kita kebal rasa, melainkan menguji di sisi mana kita berdiri. Stoisisme mengajarkan kita untuk menguasai diri sendiri, sementara Class Conscius mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas. Ketika keduanya disatukan, kita tidak lagi menjadi individu yang acuh tak acuh di balik kedok "ketenangan jiwa". Sebaliknya, kita bertransformasi menjadi pribadi yang tenang dalam menghadapi badai, namun gigih melawan ketidakadilan yang merusak sesama. (Penulis: Legita Loerenza Siregar)