Bahaya yang berlindung dibalik "Namanya Juga Anak-Anak"


Teknokra.id- Halo sobat Teknokra! siapa di sini yang sering kali merasa jengkel ketika melihat anak-anak melakukan tindakan yang menjengkelkan, meskipun telah ditegur berulang kali?

Mungkin dalam hal ini akan ada beberapa pandangan yang tersirat dalam benak kita semua. Ada beberapa orang yang memilih untuk mewajarkan tindakan ‘menjengkelkan’ yang telah dilakukan oleh seorang anak tanpa memberikan pengertian apa pun.  

Namun, di sisi lain, ada banyak juga orang yang menganggap bahwa anak yang telah melakukan tindakan menjengkelkan seyogianya harus ditegur dengan tegas, tetapi tetap dengan cara-cara yang masih bisa diterima oleh anak-anak. Hal ini agar anak tidak merasa bahwa tindakannya itu selalu benar. 

Tetapi, kenyataannya pada masa kini, banyak orang tua yang justru membiarkan anak-anaknya melakukan tindakan menjengkelkan tanpa merasa perlu untuk mengedukasi si anak. Sehingga dalam hal ini, justru orang lain yang mau tidak mau harus turun tangan untuk mengatasi hal tersebut. 

Contohnya saja, dikutip dari artikel Wilipop, terdapat curhatan seorang wanita di media sosial yang mengeluhkan anak tetangganya dikarenakan telah mencoret-coret dinding rumahnya yang baru saja direnovasi. Namun, ketika ditegur, orang tua sang anak malah berkilah dan justru membela sang anak. Menyebalkan bukan? Tentu saja. 

Lalu berikutnya, kasus yang baru-baru ini terjadi ialah kasus perundungan yang dialami oleh seorang anak kelas 2 Sekolah Dasar oleh kakak tingkatnya yang juga masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kasus ini terjadi di daerah Pemalang, Jawa Tengah. Dikutip dari kumparan.news, sebelum korban meninggal dunia, ibunya mengatakan bahwa sikap korban berubah tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Korban juga mengeluh sakit fisik yang bahkan membuatnya kesulitan untuk melakukan buang air kecil dan besar. 

Setelah ibunya bertanya lebih dalam, korban mengaku di-bully oleh kakak kelasnya, serta mengalami penganiayaan dengan ditendang menggunakan sepatu dan dipukuli di bagian perut. Bahkan, diduga kasus ini juga disembunyikan oleh pihak sekolah mereka. Dan mirisnya lagi, dikutip dari laman artikel TribunNews, dari tiga orang anak yang disebutkan oleh korban sebagai pelaku, satu dari terduga pelaku masih belum diamankan oleh pihak kepolisian, dan dua anak yang telah diperiksa bahkan tidak mau menyebut nama terduga pelaku yang masih belum diperiksa tersebut. 

Lalu, sebenarnya apakah masih relevan jika kita mengatakan bahwasanya anak-anak tidak mungkin berbohong, apalagi berbuat jahat? Berdasarkan data resmi dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri, jumlah anak di bawah umur yang tercatat sebagai pelaku kejahatan (terlapor) sepanjang pertengahan tahun 2026 adalah sebanyak 355 anak. Miris bukan? 

Lalu berikutnya, data yang didapat dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memberikan rincian yang lebih spesifik mengenai penganiayaan dan kekerasan fisik yang dilakukan oleh anak-anak di lingkungan satuan pendidikan, baik di sekolah maupun pondok pesantren, hingga Oktober 2026. Terdapat 1.055 anak yang terlibat dalam kekerasan di lingkungan sekolah, dan 36%-nya merupakan kasus penganiayaan fisik berat serta pengeroyokan yang dilakukan oleh sesama murid. 

Dalam hal ini jelas, orang dewasa tidak dapat lagi menutup mata ataupun telinga terhadap kasus-kasus kejahatan yang menjadikan anak sebagai pelakunya, terkhususnya para orang tua. Kecintaan dan kasih terhadap anak tidak boleh membutakan orang tua terhadap hal buruk yang telah dilakukan oleh sang anak, yang bahkan dilakukan terhadap anak lainnya. 

Sebab, kasih sayang yang sejati dari seorang orang tua bukanlah dengan membenarkan segala tindakan anak tanpa batas, melainkan dengan berani menuntun mereka mengenali batasan moral, bertanggung jawab atas kesalahan, dan tumbuh menjadi manusia yang menghargai sesama. 

Kasus-kasus di atas membuktikan bahwa pembiaran atas nama "namanya juga anak-anak" adalah bentuk kelalaian fatal. Ketika orang tua memilih membabi buta membela kesalahan anaknya alih-alih memberikan edukasi moral, mereka sedang mencetak generasi yang kebal terhadap rasa bersalah. Begitu pula dengan institusi sekolah yang kerap memilih jalur damai bawah tangan demi menjaga nama baik, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut justru sedang melanggengkan siklus kekerasan. 

Karena pada akhirnya, melindungi masa depan anak-anak bukan hanya tentang membiarkan mereka tumbuh tanpa aturan, tetapi berani meluruskan arah mereka ketika mereka mulai keluar jalur. Masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita merawat moral dan tanggung jawab generasi mudanya. Penulis ( Legita Loerenza Siregar )