Apakah kita masih baik-baik saja?


Teknokra.id- Kabut gelap telah hampir menyelimuti seluruh kawasan Indonesia, sesak, panas dan kabut yang menjemukan masih belum kunjung usai setelah berbulan-bulan lamanya. Kabar buruk setiap harinya selalu menyambangi kita, akankah semua ini berkesudahan? 

Halo sobat Teknokra!, apa kabarnya hari ini? Kami berharap dimanapun kalian berada, tetap jaga kesehatan dan keselamatan ditengah-tengah situasi mengerikan negara kita tercinta saat ini. Kabut asap semakin menebal, upaya yang “Mereka” lakukan masih belum kunjung memberikan hasil yang signifikan. Telah banyak hewan serta tumbuhan yang hampir punah, begitu juga dengan anak-anak manusia.

Tidak hanya itu, berbagai daerah pun telah mengalami begitu banyak kasus gangguan pernafasan dan ribuan anak-anak manusia negara tercinta ini telah mengalami hambatan dalam pendidikan mereka dikarenakan kabut kegelapan yang semakin menjemukan keadaan. 

Hewan dan tumbuhan telah kehilangan habitat asli mereka, bahkan mati bersamaan dengan itu, manusia-manusia yang tinggal di tempat terpencil pun juga turut mengalami hal yang sama akibat ketamakan manusia lainnya, kehilangan tempat tinggal, terbakar, bahkan ikut lenyap di kobaran api sama halnya dengan tempat tinggal mereka. 


Disituasi saat ini nyawa makhluk hidup apapun jenisnya bagaikan tidak berharga bagi para manusia yang hanya memikirkan “emasnya” sendiri, ketamakan berada diatas segala-galanya. Disisi lain “Mereka” yang kita harapkan serta kita percayakan dalam mengemban jabatan justru berperilaku tidak etis pada mereka yang membutuhkan pertolongan dan ingin didengar. Apakah sesungguhnya kita masih baik-baik saja layaknya seperti yang “Mereka” ucapkan?  

Di dapat dari artikel Kompas.com, Kasus kebakaran hutan ini sejatinya telah terdeteksi sejak januari dan februari 2026, yang dimana kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan 32.537 hektare. Bahkan, satelit NASA telah mendeteksi 1.805 hotspot/titik panas di Indonesia per 1 Januari hingga 6 Maret 2026. Berikutnya, mengutip pendapat Vicky Suryono dari Auriga Nusantara dalam artikel YLBHI, di Juni 2026 lonjakan kebakaran hutan terjadi dengan signifikan, yaitu 173% lebih banyak dibandingkan bulan Mei 2026, dengan provinsi yang paling luas terbakar secara berturut-turut ialah NTT 26.000 hektare, Kalimantan Barat 25.000 hektare dan Papua Selatan 15.000 hektare.  

Dan puncaknya ialah agustus 2026, hal  ini semakin diperparah dengan musim kemarau ekstrem, sehingga pada akhir agustus 2026 kebakaran melonjak lagi hingga 1,32 Juta hektare. Lalu bagaimana dengan saat ini? Berdasarkan Sistem SiPongi Kementrian Kehutanan, titik panas saja telah terdeteksi sebanyak 20.334 titik hanya dalam waktu 24 jam per 14-15 Oktober, dengan Kalimantan Tengah menyumbang titik hotspot terbanyak, yaitu 11.166 titik dan disusul oleh Sumatera Selatan dengan 2.404 titik. Dan hal ini juga telah membuat negara kita menjadi negara penghasil emisi terbesar oleh Fire Emissions Watch dari Cams Uni Eropa, yang dimana per 1-14 Oktober 2026, Indonesia telah melepaskan 2,93 juta ton karbon perharinya.  

Hal ini juga tidak hanya meresahkan masyarakat Indonesia sendiri, di dapat dari artikel Relief Web, sejumlah negara di Asia lainnya juga turut mengalami dampak dari kebakaran hutan ini, seperti Malaysia, Singapura, Timor Lester, Brunei Darussalam dan juga Filipina, lalu mengapa meskipun berita-berita luar negeri telah ikut menyoroti hal ini, pemerintah negara kita tercinta masih belum juga menyatakan ini sebagai bencana nasional? Harus sampai semenderita apakah makhluk hidup yang tinggal di negara ini dan segelap apa negara ini hingga akhirnya pemerintah kita mau menyatakan bahwa ini merupakan bencana nasional.  

Disisi lain Kementerian Kesehatan telah mencatat sebanyak 283.270 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan secara kumulatif periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026, data ini dilaporkan melalui CNN Indonesia. Dengan kasus tertinggi di Kalimantan Selatan, yaitu sebanyak 74.636 kasus, dan kembali disusul oleh Sumatera Selatan, yaitu 74.458 kasus.  



Selain itu Kemenkes juga menyatakan kualitas udara di 12 kabupaten/kota dari 6 provinsi, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Riau masuk kategori berbahaya hingga sangat tidak sehat akibat tingginya partikel halus/ PM sebesar 2,5 yang mengandung karbondioksida, nitrogendioksida, dan senyawa organik beracun. 

Dan perlu sobat teknokra ketahui, tidak hanya manusia saja yang mengalami ISPA tersebut, namun hewan juga turut mengalami hal yang sama, di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, Palangka Raya, tercatat sebanyak 47 orang utan terserang ISPA akibat kepungan asap karhutla.  Udara yang kita hirup hari ini adalah bukti nyata dari rapuhnya komitmen mereka yang berkuasa. Jika negara lain saja mampu melihat karhutla ini sebagai ancaman serius, mengapa pemerintah kita masih memilih menutup mata?

Suka dengan berita yang mengabarkan kondisi Indonesia pada saat ini? Pastikan terus beritanya di Teknokra.id. Penulis: Legita Loerenza Siregar