Saat Daratan Berkabut, Anak Krakatau Juga Ikut Terserang Batuk
Teknokra.id- Seperti yang kita ketahui, belakangan ini polusi udara menjadi suatu topik perbincangan yang ramai di kalangan masyarakat, banyak masyarakat yang mulai resah dengan keadaan tersebut. Dan di sisi lain, saat ini Anak Krakatau juga tengah mengalami batuk-batuk kecil, di tengah laut ia memuntahkan abu yang membuat langit kian pekat. Alhasil, kita seakan-akan sedang dikepung dari dua arah; polusi akibat pembakaran hutan yang membuat dada sesak, ditambah dengan sisa pembakaran alam dari perut bumi dan daratan. Bayangkan berada di pesisir Selat Sunda hari-hari ini. Belum sempat debu vulkanik dari aktivitas
Anak Krakatau sepenuhnya mengendap di daun-daun, horizon sudah lebih dulu diselimuti kabut kuning kecokelatan yang pekat. Ini bukan sekadar cuaca mendung biasa. Ini adalah sebuah anomali meteorologis ketika bumi seolah sepakat untuk "batuk" secara bersamaan, dari perutnya yang panas lewat letusan vulkanik, dan dari permukaannya yang kering akibat amukan dari kebakaran hutan yang kemungkinan besar disebabkan oleh manusia.
Bagi manusia, kondisi ini mungkin diatasi dengan mencarikan masker atau menyalakan air purifier. Namun, bagaimana dengan para penghuni senyap bumi? Flora dan fauna liar yang tidak punya tempat untuk lari.Untuk memahami betapa tangguhnya alam, mari kita mundur sedikit ke masa lalu. Letusan kolosal Krakatau pada tahun 1883 dapat dengan cepat menyapu bersih segala bentuk kehidupan, menyisakan batu apung dan abu steril. Tapi perlu kamu tahu, bahwasanya alam membenci kekosongan. Di sinilah konsep suksesi primer bekerja secara dramatis. Makhluk hidup pertama yang datang bukanlah hewan besar, melainkan tumbuhan perintis (pioneer species). Spora lumut kerak (lichen) datang terbawa angin, menempel di batu-batu tandus, lalu perlahan melapuknya menjadi tanah tipis lewat asam organik yang mereka keluarkan. Disusul oleh paku-pakuan tangguh dan biji-biji tanaman pantai (seperti ketapang atau cemara laut) yang terhanyut arus laut. Mereka adalah vegetasi paling nekat di muka bumi, mengapa demikian? Tentu karena mereka dapat tumbuh di atas "kuburan"magma, hidup dari sisa-sisa mineral vulkanik yang kaya zat hara tapi mematikan di awal.
Namun apa bedanya dengan kondisi saat ini? Dimana tantangan yang diterima oleh alam bukan hanya letusan gunung anak Krakatau saja, namun juga dampak dari kebakaran hutan yang terjadi, hal ini menyebabkan tantangan yang diterima oleh alam menjadi “stress ekologi ganda”. Mengapa demikian?
1. Partikel Kasar vs Halus
Abu vulkanik cenderung berupa partikel silika yang lebih berat dan kasar, sementara asap karhutla menyumbangkan gas-gas polutan serta partikel halus (PM2.5) yang bersifat asam saat bereaksi dengan kelembapan udara.
2. Teror Senyap di Pori-Pori Daun
Bayangkan daun itu seperti kulit yang punya ribuan pori-pori kecil untuk bernapas. Ketika abu vulkanik dan asap karhutla turun bersamaan, mereka menempel dan membentuk kerak tipis di permukaan daun mirip seperti wajah yang pori-porinya tersumbat debu dan kotoran tebal.
Karena udaranya penuh racun, pori-pori daun langsung menutup rapat-rapat agar zat berbahaya tidak masuk ke dalam. Akibatnya, tumbuhan jadi "kepanasan" karena uap air yang harusnya keluar untuk mendinginkan diri malah tertahan di dalam, membuat jaringan daunnya stres dan tersiksa.
Meski diteror oleh hantaman ganda ini, fisiologi tumbuhan memiliki mekanisme pertahanan (defense mechanism). Beberapa spesies memproduksi pigmen khusus atau mempercepat regenerasi daun baru untuk menggantikan yang rusak, membuktikan bahwa ketahanan hidup mereka bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil evolusi jutaan tahun.
Namun ada ironi yang sangat menarik jika kita melihat fenomena ini lebih dekat. Di satu sisi, abu vulkanik dalam jangka panjang adalah "pupuk gratis" yang akan menyuburkan tanah hutan kembali setelah mineralnya terurai. Namun disisi lain, asap kebakaran hutan adalah produk dari degradasi yang mempercepat kerusakan ekosistem.
Ketika polusi kota dan amukan alam berkolusi di udara yang sayangnya seringkali diperparah oleh tangan-tangan jahil pembakar lahan demi kepentingan sesaat, kita diingatkan pada satu kenyataan pahit, dimana kita dan alam sebenarnya menghirup udara yang sama.
Jika tumbuhan di pesisir saja masih bisa berjuang merawat hijau daunnya di tengah kepungan abu vulkanik dan asap ulah manusia, barangkali sudah saatnya kita berhenti sekadar mengeluh di media sosial, lalu mengambil tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk merawat bumi, bukan malah terus-menerus mencekiknya (penulis: Legita Loerenza Siregar)
