Terapi Bisik Pengantar Tidur: Menguak Fenomena ASMR dan Manfaatnya

 


Teknokra.Id- Halo S0bat Teknokra! Kalian Pernah Menatap langit-langit kamar dalam gelap gulita sambil menghitung domba sering kali menjadi ritual malam yang melelahkan bagi mereka yang akrab dengan insomnia. Di era ketika notifikasi ponsel seakan tak pernah tidur, mematikan kebisingan di dalam kepala jauh lebih sulit daripada mematikan lampu kamar.

Tak heran jika banyak anak muda kemudian berpaling pada sebuah tren digital unik yang kini
membanjiri platform streaming: video ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response). Tanpa obat kimia atau teknik relaksasi yang rumit, jutaan orang menjadikan suara-suara repetitif, mulai dari bisikan halus hingga ketukan kuku sebagai "pil tidur digital" andalan untuk meredakan penat dan menjemput lelap.

Apa sebenarnya ASMR itu?
Secara ilmiah, ASMR merujuk pada pengalaman sensasi fisik berupa rasa geli, hangat, atau rileks yang bermula dari kulit kepala, lalu menyebar ke leher dan bagian atas tulang belakang. Istilah ini pertama kali mencuat ke publik pada tahun 2010 melalui komunitas daring yang diinisiasi oleh Jennifer Allen untuk mempelajari fenomena sensasi tingling tersebut.
Suara-suara sederhana yang kerap dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari, seperti suara ketukan kuku, halaman buku yang dibalik, suara mengunyah makanan, hingga bisikan lembut, berubah menjadi terapi ampuh di tangan para kreator konten ASMR (ASMRtist).
Bagi mereka yang sensitif terhadap ASMR, paparan suara-suara ini mampu memicu gelombang relaksasi di dalam otak. Hormon stres seperti kortisol perlahan ditekan, sementara dopamin dan oksitosin zat kimia yang memicu rasa nyaman dan bahagia mulai dilepaskan ke dalam aliran darah.

Bukan Sekadar Tren, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Meski sempat dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai fenomena pop kultur belaka, dunia medis dan psikologi kini serius meneliti dampak ASMR terhadap kesehatan mental.
Salah satu tonggak penelitian ilmiah terkemuka mengenai hal ini dipimpin oleh Dr. Giulia Lara Poerio bersama timnya dari Universitas Sheffield dan Universitas Manchester Metropolitan pada tahun 2018. Studi tersebut menerbitkan temuan bahwa partisipan yang merespons ASMR mengalami penurunan denyut jantung yang signifikan, rata-rata melambat hingga lebih dari 3 detak per menit, serta perubahan suhu tubuh yang menandakan kondisi relaksasi mendalam. Penurunan detak jantung ini mirip dengan kondisi tubuh saat seseorang berada dalam fase meditasi atau menjelang tidur nyenyak deep sleepSelain itu, studi awal mengenai karakteristik psikologis penikmat ASMR juga pernah dipublikasikan oleh Emma L. Barratt dan Nick J. Davis (2015), yang mencatat bahwa sebagian besar responden menggunakan ASMR secara efektif untuk meredakan stres, memperbaiki suasana hati, dan mengatasi kesulitan tidur.
Kendati demikian, para ahli juga mencatat bahwa ASMR tidak memberikan efek yang sama ke setiap orang. Ada sebagian orang yang justru merasa terganggu, risih, atau mengalami misophonia (kebencian pada suara-suara tertentu) ketika mendengar bisikan atau suara kecapan lidah. Bagi kelompok ini, ASMR tentu bukan pilihan bijak untuk pengantar tidur.
Menjaga Kualitas Istirahat di Tengah Gempuran Layar Bagi mahasiswa dan pekerja urban yang akrab dengan layar gawai hingga larut malam, ASMR
menawarkan solusi instan yang relatif aman, murah, andal, dan mudah diakses kapan saja. Cukup pasang earphone, rebahkan tubuh, dan biarkan gelombang suara meredakan penat seharian. Namun, di balik manfaatnya sebagai kawan pengantar tidur, para ahli tetap mengingatkan pentingnya batasan. Ketergantungan pada gawai sebelum tidur, meski itu untuk mendengarkan ASMR, tetap memancarkan paparan cahaya biru  blue light yang dapat mengganggu produksi melatonin alami tubuh jika tidak diatur dengan bijak.
Tips amannya? Gunakan fitur sleep timer pada aplikasi pemutar video, atur volume seminimal
mungkin agar tidak merusak pendengaran, dan biarkan tubuh benar-benar hanyut dalam keheningan setelahnya.
Sebab pada akhirnya, tidur nyenyak bukan sekadar durasi, melainkan kualitas ketenangan yang berhasil kita jemput di penghujung hari. Jadi, sudah siap mencoba malam ini?
Penulis: Legita Loerenza Siregar