Pemanfaatan AI di Kalangan Mahasiswa: Membantu atau Membuat Malas

 



Teknokra.id-Halo sobat teknokra! Belakangan ini sedang marak fenomena pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di berbagai belahan dunia. Perkembangan itu menyelimuti berbagai bidang salah satunya dalam pendidikan tinggi. Kehadiran teknologi terbaharukan seperti ChatGPT, Gemini, hingga Perplexity AI dll, seolah menjadi "asisten baru" bagi kalangan mahasiswa dalam menunjang dunia perkuliahan.

Masuknya AI ke dunia pendidikan memicu perdebatan yang cukup serius. Di satu sisi, AI dianggap sebagai revolusi besar dalam sistem pendidikan. Namun di sisi lainnya, AI dikhawatirkan mampu menggerus cara berpikir kritis mahasiswa.

Dalam artikel ini, akan dibahas apa saja  dampak dari penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Apakah itu membantu atau membuat malas, yuk kita bahas.

1. Efisiensi Belajar dan Riset

Tak bisa dipungkiri, AI mampu menawarkan kemudahan yang menggiurkan salah satunya dalam kemudahan untuk mencari sumber pembelajaran. Apalagi bagi mahasiswa yang sering dikejar oleh deadline tugas, AI mampu menjadi alat bantu riset yang efektif. Mulai dari mencari referensi jurnal, merangkum materi kuliah yang panjang, hingga memberikan ide kerangka untuk sebuah tulisan. Dengan AI, proses pengerjaan tugas yang biasanya memakan waktu berjam-jam bisa dipangkas menjadi lebih singkat.

2. Resiko Ketergantungan Teknologi

Kemudahan yang ditawarkan tersebut sering kali menjadi bumerang yang tidak disadari. Bagaimana tidak, akses instan terhadap jawaban membuat sebagian mahasiswa enggan untuk memverifikasi informasi yang diterimanya. Terlebih lagi, resiko terbesarnya adalah terciptanya mentalitas "terima beres" pada mahasiswa itu sendiri. Hasilnya adalah mahasiswa akan menjadi malas membaca buku teks asli dan lebih memilih rangkuman instan yang diberikan oleh AI. Pada akhirnya, efek dari mentalitas ”terima beres” ini akan menurunkan kemampuan dalam literasi mendalam.

3. Isu Plagiarisme dan Etika Akademik

Hal ini juga menjadi tantangan terbesar bagi dosen dan institusi pendidikan tingkat tinggi. Batas antara "mencari inspirasi" dan "menyalin mentah-mentah" menjadi kian kabur. Penggunaan AI untuk mengerjakan esai atau skripsi tanpa proses berpikir kritis dikhawatirkan akan melahirkan lulusan yang gagap saat harus menyelesaikan masalah secara mandiri di dunia kerja.

4. Pro Kontra: Alat Bantu atau Jalan Pintas?

Pandangan mengenai hal ini terbelah menjadi dua sisi. Pandangan pihak yang pro pada AI menganggap bahwa AI setara dengan kalkulator bagi matematikawan, yaitu hanya menjadi sebuah alat untuk mempercepat hitungan dan bukan menggantikan pemahaman terhadap konsep mendalam. Sebaliknya, pihak yang kontra menganggap AI sebagai jalan pintas yang mampu mematikan bagi kreativitas orisinal mahasiswa.

Jadi pada kesimpulannya, Teknologi hanyalah alat dan letak krusialnya ada pada bagaimana AI itu digunakan penggunanya, dalam konteks ini mahasiswa. Dalam jenjang pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut untuk mampu bijak selagi melahirkan inovasi-inovasi baru.

Maka dari itu jadikan AI sebagai mitra diskusi untuk memantik ide, bukan menjadikan AI sebagai joki tugas yang menggantikan proses berpikir terstruktur dari awal hingga akhir. (Penulis: Alfian Wardana)